Pekak Liyer

pekak-liyerpekak-liyer

Sebuah papan nama menggelayut di depan rumahnya Di Desa Pengosekan-Mas, Ubud. Ketut Liyer, Medicine-man, Painter, and Wood Carving demikian tercantum.

Masuk ke pekarangan rumah, di pojok Utara tampak bale daja dengan bataran tak terlalu luas. Tampak seorang ibu sedang menggendong anak, duduk beralas tikar. Didepannya, sosok lelaki tua sedang asyik berliuk sembari komat-kamit membawa mangkok berisi air. Di depan lelaki tua itu ada sebuah almari kaca kecil, tempat puluhan lontar bertumpuk. Usai komat-kamit, lelaki tua itu memercikkan air pada anak kecil yang masih dalam pelukan ibunya. Tuntas sudah ritual itu.

Giliran saya yang ditanya. “Ada yang bisa saya bantu, nak…,” tanyanya ramah. Gurat di wajahnya tertarik dibarengi senyum. Saya pun mengungkap maksud kedatangan dan menemuinya. Setelah mengetahui tujuan lawan bicaranya, lelaki tua itu menyebut namanya “Nama pekak (Kakek), Ketut Liyer”. Ia pun kemudian mengaku lebih senang dipanggil pekak.

Dan menyoal profesi, ia lebih senang disebut balian usadha – orang yang membantu dalam bidang pengobatan tradisional, dimana ilmunya didapat dari belajar. “Karena tiang bukan balian ketakson (orang yang membantu dalam bidang pengobatan, namun ilmunya didapat begitu saja setelah ia ditunjuk secara gaib oleh alam gaib,” ucapnya. Lantas ia pun menjelaskan maksud dari kata Medicine-Man yang tercantum dalam papan namanya, tak lain adalah untuk “mempromosikan” dirinya sebagai seorang pengusadha. Ia sadar, daerah tempat tinggalnya adalah daerah wisata jadi ia menganggap suatu menggunakan bahasa Inggris di papan nama tersebut adalah suatu kewajaran.

Benar saja, berkat papan nama tersebut banyak bule yang datang dan mohon bantuan. Namun, tentu bukan hanya bule yang menjadi sasaran. Ia menolong siapa saja yang datang. Termasuk, warga lokal, karena memang demikian mandat orangtuanya, dulu.

Pernah Jadi Murid Walter Spies
Lelaki berusia 87 tahun itu mengaku menjadi balian karena keturunan. Sudah sembilan keturunan secara beruntun. Dan ia menjadi keturunan yang kesembilan. Pernah suatu ketika kakek dan orangtuanya memintanya untuk meneruskan. Sadar dengan tuntutan perut, Liyer menolak permintaan orangtuanya . Ia melanjutkan profesi melukis, karena ia pernah berguru pada Walter Spies.

Namun sayang, keanehan demi kenahean dialami. Puncaknya saat ia mendapat order melukis dari New York. Saat itu ia begadang siang dan malam untuk menyelesaikan proyek tersebut. Hingga suatu malam lampu petromak yang digunakan meredup. Seperti biasa, iapun memompa petromak tersebut. Tapi, …..
Mendadak lampu tersebut meledak. Pecahan kaca dan minyak petromak itu mengenai tangan kanannya hingga terbakar dan bengkak. “Malam itu saya langsung mimpi, kakek dan bapak saya datang memberi petunjuk obat untuk menangani sakit di tangan kanan saya,” kenangnya. Meski, ada keraguan namun ia berusaha menampik dan melakukan petunjuk yang didapat lewat mimpi tersebut. Ia lantas mencari kunir dan kayu cendana untuk dibuat boreh (param). Benar saja, dalam waktu lima hari sakit di tangannya berkurang. Padahal, dokter sudah menyatakan tangannya sulit disembuhkan. Kini, luka di tangan itu meninggalkan bekas.

Sejak itulah, sekitar usia 17 tahun Pekak Liyer mulai mempelajari peninggalan lontar leluhurnya. Lontar yang sempat dipelajari diantaranya, Lontar Kelima Usada, Kelima Usadi, Usada Sari, Usada Punggung Tiwas, Usada Kuranta Bolong, Usada Cukil Daki, Usada Taru Premana, dan lainnya. Dan menginjak usia 25 tahun, pekak Liyer mulai membantu warga yang sakit. Sembari membantu kesusahan warga, pekak Liyer juga sempat mempelajari yoga dan meramal. Dan, sejak masyarakat tahu bahwa Pekak Liyer bisa menyembuhkan, pasien mulai berdatangan. Bahkan, kini pasien manca negara pun banyak yang datang. Terutama wisman dari Jepang. Bahkan, wajahnya banyak terpampang di buku panduan wisata berbahasa Jepang. Tak hanya itu, Elizabeth Gilbert dari Amerika juga memuat profil Ketut Liyer sebagai pengusadha yang memiliki kemampuan seni dalam bukunya ”Eat, Pray, Love”.

Ajar Meditasi dan Jago Ramal
Kendati sudah mulai dikenal sebagai pengusadha Ketut Liyer tak berhenti belajar. Ia pun tak neko-neko memasang tarif atas jasa-jasanya. Meski yang datang adalah warga mampu dan memiliki harta lebih. Demikian juga halnya dengan melayani bule, tak sedikitpun terbersit di pikirannya untuk memasang tarif. “Berapapun saya diberi, saya terima,” ucapnya. Ia pun sempat menekuni Yoga dan menjadi pembimbing Yoga warsa 1990-an. “Tapi sekarang saya sudah tua, tidak mampu mempraktekkan yoga lagi,” terangnya. Selain itu, ia pun mengajarkan meditasi bagi warga yang berkenan.

Dengan tak mematok tarif tertentu, namanya kian banyak dikenal orang. Bahkan promosi dari mulut ke mulut, terutama promosi para bule yang pernah ditanganinya menyebabkan pasien yang berasal dari luar negeri kian bertambah. “Baru beberapa waktu lalu, 15 orang Jepang datang untuk diramal,” bangganya. Untuk meramal, Pekak Liyer mengemukakan bahwa dirinya selalu memulai dari garis tangan kiri. Kemudian dilanjutkan dengan melihat bentuk telinga, hidung, dan mulut. Ia juga membaca garis dahi, garis wajah, kaki, punggung, dan pinggang. Metoda yang diterapkan itu, dikatakan Pekak Liyer berasal dari buku ramalan yang dibuat oleh sang kakek.

Metoda Pengobatan
Sedangkan untuk melaksanakan pengobatan, ia tak pernah menentukan hari pantangan. Hanya saja, ia berharap pasien yang datang jangan terlalu malam. “Saya kan sudah tua, jadi perlu istirahat,” paparnya. Selain untuk istirahat, Pekak Liyer mengalokasikan waktu malamnya itu untuk bermeditasi. Memohon keselamatan untuk diri, keluarga dan kesejahteraan bagi masyarakat Bali serta dunia.
Dalam menangani pasien, Pekak Liyer pertama kali melihat mata si pasien. Dari diagnosa di mata ini ia akan melanjutkan pemeriksaan lebih lanjut. Tergantung dari hasil pemeriksaan awal itu. Yang jelas, ia pasti akan memeriksa denyut nadi pasiennya. Setelah mengetahui jenis penyakit si pasien, Pekak Liyer akan memberi daftar ramuan obat yang mesti dicari. Kalau dulu, ia sendiri yang menyediakan dan meramu obat-obatan traqdisional tersebut. “Tapi sekarang susah mencari bahan obat, tanah kebanyakan jadi bangunan,” selorohnya.

About baline

Cerita Cerita Anak Bali
This entry was posted in Usada Bali and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s