Gebug Ende

GEBUG ENDE – TRADISI UNIK TURUNKAN HUJAN

Musim kemarau kala itu, di Desa Seraya Karangasem belum berakhir. Hujan yang dinanti-nanti belum juga menunjukkan tanda akan turun. Bagi masyarakat Desa Seraya, Karangsem kondisi ini sangat tidak menguntungkan.Mereka juga ingin merasakan tanah mereka diguyur hujan meski berada pada daerah kering. Terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai petani.
Dari hasil paruman desa, tercetuslah untuk kembali melaksanakan ritual memohon turun hujan di desa mereka yakni Gebug Ende.Istilah Gebug Ende dikenal juga dengan nama Gebus Seraya. Kemungkinan,untuk mengingat desa unik yakni seraya ini.Gebud Ende hanya  dimainkan kaum pria baik dewasa maupun anak-anak.
Gebug Ende  berasal dari kata gebug dan ende.


Gebug artinya adalah memukul dan alat yang digunakan adalah rotan dengan panjang sekitar 1,5  hingga 2 meter. Sedangkan alat untuk menangkisnya disebut denga Ende. Ende dibuat dari kulit sapi yang dikeringkan selanjutnya dianyam berbentuk lingkaran.

Diceritakan Jaman dahulu krama desa seraya adalah prajurit perang Raja Karangasem yang ditugaskan untuk “menggebug” atau menyerang Lombok. Setelah jaman kerajaan jiwa dan semangat kesatria seraya masih tetap menyala hingga kini. Disesuaikan perkembangan jaman maka terciptalah sebuah tarian Gebug Ende yang secara turun temurun dapat kita saksikan hingga kini. Tombak Pedang dan Tameng yang digunakan jaman dahulu diganti dengan peralatan rotan dan Ende. Seperti terlihat sore itu sejak pukul 15.00 di lapangan Merajan, Seraya Barat telah memadati areal lapangan desa tersebut untuk menyaksikan dari dekat permainan yang menguji nyali ini. Anak-anak hingga dewasa tampak bersuka ria menanti permaianan ini.  Menariknya atraksi ini memberikan  membuat penonton pun  dari luar desa datang meramaikannya.
Tarian gebug endeAreal Gebug Ende dapat ditentukan dimana saja asalkan medannya datar. Tidak ada ukuran yang pasti untuk  menentukan areal ini disesuaikan degan kondisi areal saja.Sementara Untuk menjaga keamanan pemain dari desakan penonton lapangan pun dibatasi dengan pembatasa yakni tali.Para juru banten pun melakukan ritual permohonan berkat agar permaianan gebug ende ini dapat memberikan keberhasilan dan kemakmuran bagi krama seraya.
Setelah persiapan rampung akhirnya permainan pun segera dilangsungkan. pembukaan diawali dengan ucapan selamat datang bagi para pemain dan penonton. Selain ituterselip juga pembekalan bagi pemain utnuk selalu mengedepankan kejujuran dan sportivitas. Suara tetabuhan menyemarakkan permainan. Seorang wasit yang disebut Saya (baca: saye)  Memimpin pertandingan. Mereka inilah yang mempunyai tugas untuk mengawasi permainan tersebut.
Sebelum pertandingan mulai saye (wasit) terlebih dahulu pun memperagakan tarian gebug ende dan bagian bagian yang tidak dapat dikenai pukulan.

Di tengah lapangan terdapat sebuah rotan digunakan sebagai garis batas yang membagi lapangan menjadi dua bagian. Kali pertama diawali dengan kelompok anak anak.  Tidak tampak rasa ketakutan pada tubuh kecil itu. Ende dan  Rotan pun ditarikan. Riuh penonton memberikan semangat kepada mereka untuk memainkannya.
Bisa dibayangkan betapa sakitnya bekas cambukan rotan apabila tergores di  badan.  Usai kelompok anak anak, tibalah giliran pria dewasa. Tidak ada perbedaan tentang tata cara permainan gebug ende ini. Yang ada hanya kerasnya pukulan dan tangkisan. Rotanpun menghujam tubuh lawan namun tangkisan dari tamiang pun semakin kuat.  Pukulan dan Tangkisan  berlangsung sangat cepat.

gebug ende
Sorak penonton semakin  menyemangati nurani tersebut.  Disini saye  mengawasi permainan harus sigap untuk segera melerai pemain.Nah..selain krama desa Seraya bagi warga lain yang berminat dapat  menjadi pemain.

Dipercaya hujan akan turun apabila pertandingan mampu memercikan darah. Tidak ada waktu khusus  untuk menentukan selesainya pertandingan ini. Namun permainan dapat usai bilamana  satu pemain terdesak .Menurut Bendesa Pekraman Seraya, selain melestarikan tradisi turun temurun gebug ende adalah sebuah tarian suka cita penduduk desa seraya bertujuan memohon hujan kepada Pencipta Alam ini.  Selain itu unsur olahraga sangat ditekankan dalam permaianan ini yakni kekuatan fisik untuk melakukan pukulan dan tangkisa. Sebagai sebuah permainan tradisonal Gebug ende  telah dikenal hingga mancanegara. Pelestariannya pun harus dilakukan secara sinergi.

Written by Rai Parwati

About baline

Cerita Cerita Anak Bali
This entry was posted in Tarian Bali and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s