Makna Spiritual dan Aplikasi Keseharian

?IVAR?TRI (MAKNA SPRITUAL DAN APLIKASI KESEHARIAN)

Pendahuluan

“Di antara berbagai Brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa (pertapaan) dan melakukan berbagai kegiatan Japa (mengucapkan berulang-ulang nama-nama-Nya atau mantra untuk memuja keagungan-Nya), semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata ?ivar?tri . Demikian keutamaan Brata ?ivar?tri , hendaknya Brata ini selalu dilaksanakan oleh
mereka yang menginginkan keselamatan dan keberutungan. Brata ?ivar?tri adalah
Brata yang sangat mulia, agung yang dapat memberikan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin (Shastri, ?iva Purana, Koti Rudrasamhita, XL.
99-101,Vol.3, Part III, p. 1438).

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin ?ivar?tri kalpa menyatakan keutamaan Brata ?ivar?tri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang ?iva sebagai berikut :

“Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci (patìrthan), pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata ?ivar?tri ini, semua Pataka itu lenyap”.
“Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi
dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata ?ivar?tri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (?ivar?tri) yang Aku sabdakan ini” ( ?ivar?tri kalpa, 37, 7-8).

Sejarah lahirnya hari raya ?ivar?tri dijelaskan melalui sumber-sumber sastra, baik yang bersumber kepada Veda Smrti pada bagian Upaveda (Itihasa dan Purana), juga sumber lokal (Nusantara), sumber Eropa dan Arab Kuno. Dari sumber-sumber itu maka konstruksi (bentuk) dan nilai ?ivar?tri menurut Veda jelas tergambar, yaitu merupakan vrata utama dan sempurna walaupun perwujudan pelaksanaannya tidak memerlukan sarana yang beraneka ragam dan sederhana. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut.

Sumber Sastra

Itihasa

Dalam Itihasa, ?ivar?tri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha ?ivar?tri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha ?ivar?tri . Rsi Astavakra bertanya: “Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon.
Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.

“Hari telah menjelang fajar, aku kembali pulang ke rumah dan menjual kijang tersebut, lalu membeli makanan untuk keluargaku. Ketika akan menyantap makanan untuk mengakhiri puasaku, seorang asing datang meminta makanan. Aku melayaninya terlebih dahulu, kemudian baru aku mengambil makananku.

“Pada saat kematianku, aku melihat para pesuruh deva ?iva, mereka menjemputku untuk dibawa kepada ?iva. Aku baru sadar bahwa aku secara tidak sengaja telah melakukan pemujaan suci pada ?iva, pada hari ?ivar?tri . Mereka memberitahuku bahwa ada linggam di bawah pohon. Daun yang kujatuhkan tepat jatuh di atas linggam itu. Air mataku pada saat menangisi keluargaku jatuh di atas linggam dan membersihkannya. Dan aku telah berpuasa sepanjang hari dan malam. Aku telah memuja Yang Kuasa tanpa sadar. Aku tinggal bersama dengan-Nya dan menikmati kebahagiaann Ilahi selamanya. Aku kini terlahir sebagai Citrabhanu.

Purana

?ivar?tri juga dimuat dalam purana-purana, seperti berikut:

1. ?iva Purana (bagian Jnanasamhita).
Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para ??i, menguraikan pentingnya upacara ?ivar?tri. Seseorang bernama Rurudruha sangat kejam, namun setelah melaksanakan vrata ?ivar?tri akhirnya menjadi sadar akan kekejaman dan kedangkalan pikirannya. Dalam ?iva Purana juga disebutkan bahwa bagi mereka yang berpuasa siang dan malam pada hari Maha ?ivar?tri ini dan memuja ?iva dengan daun bilva, akan mencapai kedekatan dengan ?iva. Mereka yang melakukan vrata ini selama 12 tahun maka dinyatakan bahwa mereka akan menjadi seorang Gana yaitu pengawal ?iva.

2. Skanda Purana (bagian Kedarakanda).

Pada bagian Kedarakanda dari Skanda Purana antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut “kebenaran” Dalam purana ini diuraikan tentang asal mula upacara ?ivar?tri tersebut. Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

3. Garuda Purana (bagian Acarakanda).

Bagian ini memuat uraian singkat tentang ?ivar?tri , diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. ?iva menguraikan tentang pelaksanaan vrata ?ivar?tri . Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

4. Padma Purana (bagian Uttarakanda).

Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa dengan Wasista. Wasista menceritakan bahwa ?ivar?tri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata ?ivar?tri yang dilakukannya berhasil membawanya ke ?iva Loka.

Sumber Lokal

Sumber Jawa Kuno adalah kakawin ?ivar?tri kalpa (di masyarakat lebih dikenal kakawin Lubdhaka), karya mahakawi Mpu Tanakung.

Karya ini ternyata bersumber dari Padma Purana. Uraian tentang ?ivar?tri juga terdapat dalam lontar Aji-brata serta sejumlah karya sastra kidung dan geguritan Lubdhaka. Mpu Tanakung mengarang kakawin ?ivar?tri kalpa pada jaman Majapahit akhir (1447 Masehi).

Sumber Eropa

Dalam sumber-sumber Eropa ada diuraikan tentang apa yang disebut vrata Zuiverasiri (?ivar?tri ). Vrata ini dilakukan pada bulan Pebruari, dikaitkan dengan kisah seorang pemburu bernama Beri yang karena kemalaman di hutan lalu naik ke atas pohon Cuola (Bilva). Semalaman ia memetik-metik daun pohon itu yang tanpa disadarinya telah dilemparkannya kepada Zuivelingga (?ivalingga) yang berada di bawah pohon itu. Akhirnya si pemburu mendapat anugerah dari Ixora (Isvara).

Sumber Arab Kuno

Selain sumber Eropa juga diketemukan uraian tentang pemujaan ?iva Mahadeva di dalam kitab Sayar-ul Okul, sebuah kitab yang memuat ontologi puisi Arab Kuno; susunan Abu Amir Asmai, orang yang dihormati sebagai Kalidasanya Arab. Kitab ini memuat sebuah syair karya Umar bin Hassam, seorang penyair besar yang karya-karyanya juga dinilai sebagai karya terbaik dalam suatu simposium yang biasanya diadakan dalam perayaan tahunan Okaz (menurut Prof. Oberai, ?ivar?tri di Arab pada jaman Arab Kuno, disebut Okaz atau Sabhebarat). Dalam tulisannya, berjudul Influence of Indian Culture on Arabia, Oberai menyatakan informasi tersebut.
Pada bagian lain, Oberai juga memberikan keterangan bahwa nantinya setelah terjadi peristiwa tertentu di Mekah, istilah ?ivar?tri diganti menjadi Shabe Barat.

Puisi ini berisi:

“Orang yang menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang bersifat kenafsuan, jika pada akhirnya ia menjadi sadar dan ingin kembali ke jalan moral disediakan jalan ke arah itu. Walaupun ia hanya sekali memuja MAHADEVA ia bisa mendapatkan posisi yang tertinggi dalam “kebenaran”.

?ivar?tri Mengapa pada Caturdasi Krsna Paksa

“Beginilah, malam dikuasai oleh bulan. Bulan mempunyai enam belas kala atau bagian-bagian kecil. Setiap hari bila bulan menyusut, berkuranglah satu bagian kecil hingga bulan hilang seluruhnya pada malam bulan yang baru. Setelah itu setiap hari tampak sebagaian, hingga lengkap pada bulan purnama. Bulan adalah dewata yang menguasai manas yaitu pikiran dan perasaan hati. Dalam Catur Veda di dalam doa Purusa Sukta ‘Candram? manaso j?thah’. Dari Manas (pikiran) Purusha (Tuhan) timbullah bulan. Ada daya tarik menarik yang erat antara pikiran dan bulan, keduanya dapat mengalami kemunduran atau kemajuan. Susutnya bulan adalah simbol susutnya pikiran dan perasaan hati, karena pikiran dan perasaan hati dikuasai, dikurangi akhirnya dimusnahkan. Semua sadhana ditujukan pada hal ini. Manohara, pikiran dan perasaan hati harus dibunuh, sehingga maya dapat dihancurkan dan kenyataan terungkapkan. Setiap hari selama dua minggu ketika bulan menggelap, bulan, dan secara simbolis rekan imbangnya di dalam diri manusia yaitu ‘manas’ menyusut dan lenyap sebagian, kekuatannya berkurang, dan akhirnya pada malam keempat belas, Chaturdasi, sisanya hanya sedikit. Jika pada hari itu seorang sadhaka berusaha lebih giat, maka sisa yang kecil itupun dapat dihapuskan dan tercapailah Manonigraha (penguasaan pikiran dan perasaan hati). Oleh karena itu Chaaturdasi dari bagian yang gelap disebut Siwaratri. Karena malam itu seharusnya digunakan untuk japa dan dhyana kepada Siwa tanpa memikirkan soal yang lain, baik soal makan maupun tidur. Dengan demikian keberhasilan pun terjamin. Dan sekali setahun pada malam Mahasiwaratri, dianjurkan mengadakan kegiatan spiritual yang istimewa agar apa yang Savam (jasat atau simbol orang yang tak memahami kenyataan sejati) menjadi ?ivam (terberkati, baik, ilahi) dengan menyingkirkan hal yang tak berharga, yang disebut Manas.”

Jadi dengan bisa dikuasainya pikiran, indrya-indryapun akan lebih mudah ditundukkan dan kebahagiaan yang sejati akan tercapai. Wrhaspati Tattwa mengajarkan ada 3 jalan untuk mencapai moksa, yaitu:

1. Jnanabhyadreka
artinya jalan pengetahuan tentang semua tattwa.
2. Indriyayogamaarga
artinya jalan pengendalian atas indrya dengan melepaskan diri dari segala indrya atau tidak menikmati indrya.
3. Trsnadosaksaya
artinya memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk atau kerja tanpa mengikatkan diri pada hasil kerja.

Makna Spiritual

Dari kisah raja Citrabhanu, dapat kita pahami makna spiritualnya, sebagai berikut.

1. Binatang buruan yang ditangkap itu adalah simbol nafsu, kemarahan, ketamakan, irihati dan kebencian. Hutan yang dimaksud adalah empat jenis pikiran, yaitu bawah sadar, kecerdasan, ego dan pikiran. Dalam pikiranlah “binatang” itu berkeliaran bebas, mereka ini harus diburu dan ditaklukkan serta ditangkap atau dibunuh. Pemburu yang mengejar binatang itu adalah seorang yogi.

2. Nama pemburu itu adalah “Susvara” yang artinya berirama merdu dan menyenangkan. Jika seseorang telah melaksanakan yama dan niyama dan telah menaklukkan sifat-sifat jahat; maka ia adalah seorang yogi. Tanda-tandanya, wajah berseri-seri, bercahaya, bersuara lembut. Ini dijelaskan dalam Svetasvatara Upanishad.
Pemburu atau yogi itu telah bertahun-tahun melaksanakan yoga dan telah mencapai tahapan pertama, sehingga diberi nama Susvara.

3. Pemburu itu lahir di Varanasi. Para yogi menyebut ajna cakra dengan Varanasi. Ini adalah titik pusat antara kedua alis mata, yang merupakan pertemuan tiga arus syaraf, yaitu Ida, Pingala dan Susumna. Seorang sadhaka disarankan untuk konsentrasi pada titik ini untuk membantu menaklukkan keinginan dan sifat-sifat jahat; yang terdapat pada dirinya, seperti kemarahan dsb.

4. Daun bilva memiliki 3 helai daun dalam satu tangkai, menggambarkan tulang belakang, yaitu Ida, Pingala dan Sumsumna; yang merupakan wilayah aktivitas dari bulan, matahari dan api atau yang dikenal dengan tiga mata ?iva. Naik ke atas pohon menyatakan naiknya daya kundalini sakti, mulai dari syaraf yang paling rendah, yaitu muladhara sampai ke ajna cakra.

5. Pemburu mengikat kijang buruannya pada cabang pohon, ini berarti ia telah berhasil mengendalikan dan menenangkan pikirannya. Dia menuju tahap yama, niyama, pratyahara dst. Di pohon itu ia melaksanakan konsentrasi dan meditasi, bila ia tertidur, berarti ia kehilangan kesadaran, karenanya ia tetap terjaga.

6. Istri dan anaknya adalah simbol dunia ini. Orang yang mencari berkah Tuhan, harus memiliki cinta kasih, rasa simpati untuk merangkul sesamanya. Air mata menetes menandakan cinta kasih yang universal, tanpa cinta kasih universal seseorang tak akan pernah mendapatkan berkah Tuhan. Dalam yoga tanpa berkah Tuhan, tidak akan pernah ada pencerahan. Pada tahap awal, kita harus berusaha memahami pikiran semua mahluk hidup, lalu mencintai sesamanya. Dengan ini maka tahapan samadhi akan dicapai.

7. Tanpa sadar pemburu menjatuhkan daun bilva, artinya ia tidak memikirkan apa-apa lagi, karena aktivitasnya dipusatkan kepada 3 nadi itu. Ia tidak tidur sepanjang malam, itu menandakan bahwa ia telah memasuki keadaan ke-empat yaitu turiya atau kesadaran super. Dalam keadaan turiya lah ia melihat linggam ?iva dalam wujud cahaya batin, artinya ia telah memiliki visi Ilahi, dan telah mewujudkan ?iva dalam dirinya.

8. Pemburu pulang dan memberi makanan kepada orang asing yang tak dikenalnya. Orang asing itu adalah si pemburu sendiri yang telah berubah menjadi manusia baru.

9. Makanan yang dimaksud adalah rasa suka dan duka yang telah dihilangkan pada malam sebelumnya. Tetapi ia tidak menghabiskan semuanya, masih ada tersisa walaupun hanya sedikit. Inilah sebabnya mengapa ia lahir kembali sebagai raja Citrabhanu, walaupun ia telah pergi ke alam ?iva; namun tidak cukup untuk mencegah punarbhawanya.

Aktualisasi Brata ?ivar?tri

Dua kekuatan besar alam yang berpengaruh pada manusia, yaitu sifat rajas (yang bersifat dinamis) dan tamas (yang bersifat lamban dan bodoh). Vrata ?ivar?tri membantu mengendalikan itu. Sepanjang hari itu digunakan untuk memuja kaki padma Yang Kuasa. Pemujaan Tuhan yang berkelanjutan ini mengharuskan para bhakta untuk tetap berada di tempat pemujaan. Di tempat suci ini, pikiran terkendali, sifat-sifat jahat seperti nafsu, kemarahan, kecemburuan, yang berasal dari sifat rajas, dapat ditundukkan. Para bhakta tidak tidur selama semalam, sehingga juga berhasil mengendalikan sifat tamas.

Setiap tiga jam pemujaan pada linggam ?iva dilakukan. ?ivar?tri adalah vrata yang sempurna. Siwaratri sebagai malam pemujaan ?iva juga berkaitan dengan perayaan terhadap menyatunya ?iva dengan ?aktinya yaitu Parvati.

Brata artinya sumpah suci, pelaksanaan sumpah suci atau tekad suci. Untuk selanjutnya kita sebut saja pelaksanaan Brata ?ivar?tri . Seperti disebutkan sebelumnya, pelaksanaan Brata ?ivar?tri bertujuan untuk menghilangkan atau
menghapuskan dosa-dosa, mengkikis dosa-dosa kita. Satu lagi disebutkan bahwa
pelaksanaan Brata ?ivar?tri ini juga bermakna sebagai pemberi Bhukti Mukti.
Bhukti artinya kenikmatan-kenikmatan duniawi, kepuasan-kepuasan duniawi.
Kenikmatan-kenikmatan duniawi itu bisa diberikan, bisa kita dapatkan lewat pelaksanaan Brata ?ivar?tri .

Pelaksanaan Brata ?ivar?tri juga dapat memberikan kepada orang hadiah Mukti atau pembebasan dari keterikatan duniawi.

Mona: tidak bicara hal- hal yang tidak baik dan tidak benar dirubah dengan berjapa kepada Tuhan (?iva), karena japa adalah Yajña utama: “Maha??inam bh?gur aham, Giram asmy ekam ak?aram, Yajñanam japa-yajño smi, Sthavarana? himalaya?”-Diantara maha??i Aku adalah Bh?gu; diantara ucapan suci Aku adalah O?k?ra; diantara Yajña Aku adalah japa mantra; diantara benda-benda tak bergerak Aku adalah Himalaya. Bhagavadg?t? X.25.

Upavasa/Vrata: mengendalikan makanan dan minuman yang tamasik dan rajasik dengan makanan yang sattvik baik jenis maupun cara mendapatkannya. Puasa dapat juga dilakukan dengan mengurangi jatah biaya makan dan minum, kelebihannya digunakan untuk memberikan makan dan minum kaum fakir (mat?deva bhava, pit? deva bhava, ath?ti deva bhava, daridra deva bhava)

Jagra: mengendalikan pikiran, ucapan dan prilaku agar tetap memiliki kesadaran bahwa setiap entitas kehidupan diliputi oleh Tuhan,dan bergerak sesuai dengan dharma dan guna karmanya, sehingga tidak ada hak bagi manusia untuk mengeksploitasi apalagi menyalahkan bahkan meyakitinya dengan egoisme. (vi?va vir?t svar?pa…?svara sarva bh?tanam). Dengan kesadaran ini maka kesucian dan cinta kasih akan tumbuh subur Pelaksanaan Brata ?ivar?tri akan pas sekali, akan lebih membantu kita untuk mendapatkan berkah khusus dari Dewa ?iva jikalau pelaksanaan perayaan ?ivar?tri ini kita arahkan untuk tujuan pengekangan diri, pengendalian diri, “mulat sarira” mengadakan perbaikan-perbaikan ke dalam, melihat kekurangan-kekurangan di dalam diri kita, melihat/menimbang-nimbang kurang lebihnya kita, kalau kita maju, kita majunya berapa step, kalau kita mundur, kita mundurnya seberapa kilometer ke belakang.

Secara jujur kita hendaknya menilai diri kita pada Brata ?ivar?tri ini. Itu yang bisa kita lakukan.

Om ??ntih ??ntih ??ntih Om

Daftar Pustaka:

1. Agastia, IBG, Memahami Makna Siwaratri, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 1997.
2. Chaturvedi, B.K., ?IVA, terjemahan Oka Sanjaya, editor I Wayan Maswinara, Paramita, 2002.
3. Agastia, IBG, SIWA SMRTI, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 2003.
4. ?ivananda, Sri Svami, Hari Raya & Puasa dalam Agama Hindu, terjemahan Dewi Paramita, editor I Wayan Maswinara, Paramita, Surabaya, 2002.
5. Agastia, IBG, SIWARATRI KALPA, terjemahan, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 2001.
6. Sudharta, Tjok. Rai, SIWARATRI, Makna dan Upacara, Upada Sastra, Denpasar, 1994.
7. Titib, I Made, Veda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan, Paramita, Surabaya, 1996.
8. Anandamurti, Shrii Shrii, Yama – Niyama, Sebagai Dasar Moralitas Kehidupan Spiritual, terjemahan I Ketut Nila, Persatuan Ananda Marga,1991.

sumber: HDnet

About baline

Cerita Cerita Anak Bali
This entry was posted in Spiritual dan magis and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s